UNS – Limbah seringkali dianggap sebagai masalah, namun bagi masyarakat Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, limbah onggok aren kini bertransformasi menjadi potensi sumber daya bernilai. Melalui inisiatif dari Research Group (RG) Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan Berkelanjutan, Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, masyarakat diberdayakan untuk mengolah limbah tersebut menjadi pupuk kompos organik yang dapat bermanfaat bagi pertanian lokal.
Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) yang dipimpin oleh Dr. Ir. Margono, S.T., M.T. Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan komitmen UNS dalam menjawab tantangan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi berbasis ilmu pengetahuan.
Optimalisasi Limbah Onggok Aren: Dari Masalah Menjadi Berkah
Pemateri dalam kegiatan pengabdian ini yaitu Novesa Nurgirisia, S.T., M.T. sebagai anggota RG. Novesa menyampaikan bahwa onggok aren adalah limbah padat yang dihasilkan dari proses pembuatan pati aren. Selama ini, limbah ini seringkali dibuang begitu saja, menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti pencemaran air dan penumpukan sampah. Padahal, onggok aren memiliki potensi besar untuk diolah kembali, tidak hanya sebagai pupuk kompos, tetapi juga sebagai media tanam jamur, karbon aktif, serta briket.
Pemanfaatan onggok aren sebagai bahan baku pupuk kompos menjadi solusi cerdas. Selain mengurangi volume limbah yang mencemari lingkungan, inisiatif ini juga memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah. “Pupuk kompos sendiri merupakan hasil dekomposisi bahan organik yang dipercepat oleh mikroorganisme, berfungsi vital dalam meningkatkan kesuburan dan struktur tanah secara alami,” kata Novesa, Kamis (31/7/2025).
Proses Pemberdayaan dan Tahapan Kegiatan
Kegiatan pengabdian ini dimulai dengan koordinasi awal dan sosialisasi kepada masyarakat Desa Daleman. Kepala Desa Daleman, Mursito, S.H., bersama perwakilan masyarakat dan PKK, menyambut baik inisiatif ini, menunjukkan antusiasme kolektif untuk perubahan positif. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini telah dilaksanakan melalui beberapa tahapan pelaksanaan. Yaitu pada 2 Mei 2025 dilakukan koordinasi awal dengan perangkat desa, termasuk Kepala Desa Daleman, Mursito, S.H., serta perwakilan masyarakat dan perwakilan kelompok PKK, untuk membahas rencana dan tujuan kegiatan. Lalu tanggal 10 Mei 2025 dilakukan pelatihan intensif mengenai pembuatan pupuk kompos dari limbah onggok aren menggunakan komposter. Dalam pelatihan ini, masyarakat diajarkan teknik pengomposan yang benar, termasuk penggunaan bahan pendukung seperti EM4 yang berfungsi sebagai aktivator kompos dan molase atau tetes tebu, berperan sebagai sumber pangan bagi mikroba EM4 karena kandungan gulanya yang tinggi. Pengolahan kompos dengan komposter perlu diperhatikan dengan mengontrol kelembaban, memastikan aerasi yang cukup, dan meratakan proses dekomposisi di seluruh bagian limbah.
Kemudian pada 8 Juni 2025, tim pengabdian melakukan monitoring progres pembuatan kompos dan evaluasi untuk memastikan masyarakat menerapkan teknik yang telah diajarkan dan memberikan pendampingan jika diperlukan. Tanggal 29 Juni 2025, kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Bakti Sosial Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) melalui program desa binaan. Pada hari ini juga dilakukan penanaman pohon sebanyak 5-8 bibit di dekat area Balai Desa Daleman, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) yang menyediakan bibit pohon.
Sinergi dan Dampak Positif untuk Lingkungan Berkelanjutan
Kegiatan ini bukan hanya tentang pengolahan limbah, tetapi juga tentang pembangunan kesadaran kolektif akan pentingnya lingkungan berkelanjutan. Sinergi RG Teknik Kimia UNS, pemerintah desa, dan masyarakat setempat, didukung oleh mahasiswa, menciptakan model pemberdayaan yang efektif.
Melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat Desa Daleman dapat mandiri dalam mengelola limbah onggok aren, tidak hanya untuk kebutuhan pertanian mereka sendiri tetapi juga berpotensi untuk mengembangkan produk kompos skala komunal. Ini adalah langkah nyata menuju masyarakat yang lebih sejahtera, mandiri, dan berwawasan lingkungan. HUMAS UNS




