
CAWAS, KLATEN – Limbah organik seringkali menjadi permasalahan yang sulit diurai di berbagai wilayah pedesaan, namun bagi masyarakat Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, tumpukan sampah organik kini berubah menjadi peluang ekonomi baru dan solusi ketahanan pangan. Melalui Program Hibah Pembelajaran Merdeka (MBKM) Membangun Desa, tim mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yang terdiri dari 10 orang mahasiswa dan dipimpin oleh Shofiana Qolbiyah, memberdayakan masyarakat desa untuk mengelola sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Kegiatan pengabdian ini merupakan implementasi dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkontribusi langsung dalam pengembangan program desa dan pemberdayaan masyarakat pedesaan, sekaligus mengasah softskill dan kepemimpinan mahasiswa secara lintas disiplin ilmu. Desa Plosowangi dipilih sebagai lokasi kegiatan karena desa tersebut menghadapi permasalahan pengelolaan sampah organik rumah tangga yang belum optimal.
Dari Masalah Sampah Menuju Solusi Berkelanjutan
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2015, timbunan sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton/hari, dengan persentase sampah organik mencapai lebih dari 65%. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kebersihan, kesehatan, dan kualitas lingkungan sekitar.
Tim mahasiswa yang dibimbing oleh Dr. Joko Waluyo, S.T., M.T. ini melihat peluang besar dengan memanfaatkan limbah organik untuk budidaya maggot lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot merupakan larva dari lalat tentara hitam yang dapat hidup dengan baik pada iklim tropis seperti Indonesia. Metode ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang menekankan pemanfaatan kembali sumber daya secara optimal.
“Berdasarkan penelitian, satu kilogram maggot dapat menguraikan hingga empat kilogram limbah organik dalam waktu relatif singkat, sehingga pendekatan ini dinilai lebih efisien dibandingkan metode pengelolaan limbah konvensional,” ungkap Shofiana Qolbiyah, selaku Ketua Tim MBKM. “Kami ingin mengajak masyarakat Desa Plosowangi tidak hanya terbebas dari masalah sampah, tetapi juga mampu mengambil manfaat ekonomi dari proses pengelolaan sampah itu sendiri.”
Maggot: Solusi Ganda untuk Pakan Ternak dan Pupuk Organik
Di antara berbagai jenis serangga yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif, larva Black Soldier Fly (BSF) memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, terutama protein sekitar 30–40% serta lemak berkisar 29–32%, sehingga berpotensi menggantikan pakan ternak konvensional. Maggot yang dihasilkan dari proses budidaya dapat diolah menjadi pakan ternak berkualitas tinggi bagi ayam dan ikan.

Selain menghasilkan maggot, proses budidaya ini juga menghasilkan residu yang disebut kasgot. Kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung aktivitas perkebunan rumah tangga. Dengan demikian, kegiatan budidaya maggot ini memberikan kontribusi positif bagi sektor peternakan sekaligus perkebunan di Desa Plosowangi.
Tim mahasiswa melakukan pendampingan secara intensif yang mencakup berbagai tahapan. Mulai dari pembibitan maggot BSF (diawali dengan penyediaan kandang induk lalat BSF yang dirancang sederhana), pembuatan pakan ternak yaitu maggot basah dan kering (maggot dipanen pada umur 2 minggu, kemudian dicuci, disiram air panas, dan disangrai atau dioven menjadi maggot kering), hingga pembuatan pupuk kasgot (residu biokonversi dicampur dengan aktivator mikroba EM4 dan difermentasi selama 7–14 hari).
Pemberdayaan Masyarakat Menuju Ekonomi Sirkular

Kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada aspek teknis. Tim mahasiswa juga memberikan sosialisasi mengenai peluang usaha dan pengelolaan media digital sebagai sarana promosi produk. Masyarakat diperkenalkan dengan berbagai platform pemasaran digital seperti Instagram, WhatsApp Business, hingga e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia untuk memasarkan produk pakan ternak dari maggot dan pupuk kasgot.
“Kami ingin memastikan bahwa program ini berkelanjutan, bahkan setelah tim mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian,” jelas Shofiana. “Oleh karena itu, kami menyusun buku panduan praktis tentang seluruh proses budidaya maggot hingga pemasarannya. Buku ini akan menjadi pegangan bagi warga untuk melanjutkan program secara mandiri.”
Melalui serangkaian sosialisasi dan pelatihan yang sudah berlangsung, masyarakat Desa Plosowangi menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka tidak hanya diajarkan teknis budidaya, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai sistem pengemasan produk yang baik agar produk yang dihasilkan memiliki nilai jual yang layak.

Target dan Luaran Program
Program MBKM yang berlangsung selama 4 bulan ini menargetkan terciptanya beberapa luaran utama. Masyarakat Desa Plosowangi diharapkan memiliki wawasan dan keterampilan dalam pembibitan maggot sebagai solusi pengolahan limbah organik rumah tangga. Selain itu, optimalisasi pemanfaatan limbah organik melalui proses penguraian menggunakan maggot diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang selama ini menjadi masalah utama desa.
Dari sisi lingkungan dan ekonomi, program ini mendorong pemanfaatan hasil samping budidaya maggot berupa kasgot sebagai pupuk organik untuk mendukung ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Maggot yang dihasilkan juga diperkenalkan sebagai alternatif pakan ternak yang berkelanjutan, sehingga dapat mendukung efisiensi biaya pakan bagi masyarakat desa yang memiliki usaha peternakan skala rumahan.
Sebagai wujud nyata dari hasil kegiatan ini, tim telah menyusun laporan kegiatan, artikel pengabdian, serta video tutorial yang akan dipublikasikan melalui media sosial. Diharapkan, model pemberdayaan ini dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kabupaten Klaten dan sekitarnya yang menghadapi permasalahan serupa.

Booklet Budidaya Maggot BSF dapat di unduh di sini
Dengan adanya inisiatif dari mahasiswa Teknik Kimia FT UNS ini, sampah organik yang tadinya dianggap sebagai masalah kini bertransformasi menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Desa Plosowangi tidak hanya terbebas dari tumpukan sampah, tetapi juga berpotensi menjadi desa mandiri dalam hal pengelolaan limbah dan ketahanan pangan berbasis ekonomi sirkular. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat ini membuktikan bahwa langkah sederhana dengan pendekatan teknologi tepat guna dapat memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat desa.




