
BOYOLALI – Tim Pengabdian Masyarakat Research Group (RG) Sumber Daya Alam dan Lingkungan Berkelanjutan, Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret (UNS), melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga untuk Budidaya Maggot dan Produksi Pupuk Kasgot” di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Kegiatan ini berlangsung mulai Februari hingga Juli 2026 sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Desa Ngargorejo dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surakarta, dilanjutkan dengan survei lokasi, perancangan sistem budidaya, pembangunan rumah produksi maggot dan kandang lalat Black Soldier Fly (BSF), serta implementasi budidaya maggot skala pilot yang melibatkan masyarakat setempat.
Sebagai bentuk implementasi teknologi tepat guna, tim berhasil mengembangkan satu unit fasilitas budidaya maggot yang terdiri atas kandang lalat BSF, rak penetasan telur, wadah pembesaran larva (biopond), serta area pengolahan kasgot. Budidaya diawali menggunakan telur BSF yang kemudian dipelihara melalui satu siklus produksi mulai dari penetasan, pembesaran larva, pemindahan prepupa, hingga pembentukan lalat dewasa sebagai sumber telur untuk siklus berikutnya.
Selain menghasilkan maggot sebagai alternatif pakan ternak, residu hasil biokonversi limbah organik (kasgot) juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Untuk mengevaluasi kualitas produk, tim melakukan pengujian di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa pupuk kasgot memiliki kandungan N total sebesar 2,80%, P₂O₅ sebesar 0,41%, K₂O sebesar 0,79%, serta pH 8,74. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kasgot yang dihasilkan memiliki kandungan unsur hara makro yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sekaligus menjadi dasar ilmiah dalam pengembangan produk hasil budidaya maggot.
Puncak kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi pada tanggal 18 Juni 2026 yang diikuti oleh perangkat desa, kelompok tani, PKK, karang taruna, serta masyarakat Desa Ngargorejo. Pada kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai pengelolaan limbah organik rumah tangga, teknik budidaya maggot, pemanfaatan kasgot sebagai pupuk organik, serta demonstrasi langsung proses budidaya dan pengolahan hasilnya.
Program ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat, antara lain tersedianya fasilitas budidaya maggot yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik, serta terbentuknya sistem pengolahan limbah rumah tangga berbasis biokonversi menggunakan larva BSF. Selain itu, masyarakat juga memperoleh pengalaman praktik langsung dalam penetasan telur BSF, pemeliharaan larva, pemanenan maggot, pemisahan kasgot, hingga pemanfaatannya sebagai pupuk organik.
Program ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat, antara lain tersedianya fasilitas budidaya maggot yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik, serta terbentuknya sistem pengolahan limbah rumah tangga berbasis biokonversi menggunakan larva BSF. Selain itu, masyarakat juga memperoleh pengalaman praktik langsung dalam penetasan telur BSF, pemeliharaan larva, pemanenan maggot, pemisahan kasgot, hingga pemanfaatannya sebagai pupuk organik.
Ke depan, Tim Pengabdian Masyarakat RG Sumber Daya Alam dan Lingkungan Berkelanjutan berencana melakukan peningkatan kapasitas produksi budidaya maggot melalui pengembangan fasilitas budidaya dan optimalisasi sistem pemeliharaan sehingga mampu mengolah limbah organik dalam jumlah yang lebih besar. Selain itu, tim juga akan mengembangkan inovasi pada proses produksi pupuk kasgot dengan memanfaatkan Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai alternatif pengganti aktivator komersial EM4. Pemanfaatan MOL diharapkan dapat menekan biaya produksi, memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia, serta meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menghasilkan pupuk organik secara berkelanjutan.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan limbah organik menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara Program Studi Teknik Kimia UNS, pemerintah desa, instansi pemerintah, dan masyarakat.




